Ilmuwan Mana yang Pertama Menemukan Suplemen Vitamin?
Ilmuwan Mana yang Pertama Menemukan Suplemen Vitamin?
Casimir Funk adalah nama yang mengubah dunia ilmu gizi selamanya. Pada tahun 1912, ilmuwan asal Polandia ini berhasil mengisolasi senyawa vital dari dedak beras dan mencetuskan istilah “vitamine” — gabungan dari kata vita (kehidupan) dan amine (gugus kimia nitrogen). Penemuannya tentang suplemen vitamin meletakkan fondasi yang hingga hari ini menjadi dasar industri kesehatan global bernilai triliunan rupiah.
Namun perjalanan menuju penemuan itu jauh lebih panjang dari yang banyak orang kira. Sebelum Funk muncul dengan teorinya, para ilmuwan sebelumnya sudah menyaksikan fenomena aneh: pelaut yang mati karena skurvi bisa sembuh hanya dengan memakan jeruk, atau tentara yang menderita beri-beri mendadak pulih setelah diberi nasi merah. Mereka belum tahu mengapa, tapi mereka tahu ada sesuatu di dalam makanan itu yang menyelamatkan nyawa.
Fakta menariknya, proses penemuan vitamin bukan hasil satu eksperimen tunggal yang dramatis. Ini adalah akumulasi riset selama hampir satu abad, melibatkan puluhan ilmuwan dari berbagai negara, sebelum akhirnya konsep vitamin sebagai suplemen yang bisa diisolasi dan dikonsumsi terpisah dari makanan menjadi kenyataan.
Jejak Sejarah Penemuan Vitamin yang Mengubah Ilmu Gizi
Christiaan Eijkman dan Eksperimen Ayam yang Mengejutkan
Sebelum Casimir Funk, ada Christiaan Eijkman — dokter Belanda yang bekerja di Hindia Belanda (kini Indonesia) pada akhir abad ke-19. Ia mengamati ayam-ayam di laboratoriumnya yang tiba-tiba menderita gejala mirip beri-beri setelah diberi makan nasi putih. Ketika ia mengganti makanan ayam tersebut dengan nasi merah, gejala itu menghilang. Eijkman awalnya mengira ini soal bakteri, bukan soal zat gizi — tapi eksperimennya kelak menjadi kunci besar dalam sejarah vitamin.
Teori “Vital Amine” oleh Casimir Funk
Riset Eijkman menginspirasi Funk untuk menggali lebih dalam. Di laboratorium Lister Institute, London, Casimir Funk berhasil mengisolasi thiamine (vitamin B1) dari dedak beras pada 1912. Ia mengusulkan bahwa berbagai penyakit defisiensi seperti beri-beri, skurvi, pelagra, dan rakitis semuanya disebabkan kekurangan “vital amine” tertentu dalam tubuh. Teori ini revolusioner karena menggeser paradigma: bukan hanya bakteri yang menyebabkan penyakit, tapi juga ketiadaan zat tertentu.
Siapa Saja Ilmuwan Lain yang Berkontribusi dalam Sejarah Vitamin?
Frederick Gowland Hopkins dan Nobel Prize yang Membuktikan Segalanya
Tak bisa mengabaikan kontribusi Frederick Gowland Hopkins, ilmuwan Inggris yang melakukan eksperimen tikus pada awal 1900-an. Hopkins membuktikan bahwa tikus yang hanya diberi protein, karbohidrat, lemak, dan mineral murni justru gagal tumbuh normal — sampai ia menambahkan sedikit susu. Kesimpulannya: ada “faktor aksesoris” dalam makanan yang tidak terdeteksi secara kimia biasa. Ia dan Eijkman bersama-sama memenangkan Nobel Prize Fisiologi tahun 1929 atas kontribusi ini.
Perjalanan Panjang Menuju Suplemen Vitamin Modern
Setelah konsep vitamin terbukti secara ilmiah, para kimiawan berlomba mengisolasi dan mensintesis setiap jenisnya. Vitamin C diisolasi oleh Albert Szent-Györgyi pada 1928. Vitamin D dikaitkan dengan riket dan berhasil disintesis pada 1930-an. Nah, baru pada pertengahan abad ke-20, produksi massal suplemen vitamin dalam bentuk pil, kapsul, dan tablet mulai dijual secara komersial kepada masyarakat umum. Ini adalah titik balik di mana penemuan ilmiah bertransformasi menjadi produk kesehatan sehari-hari.
Kesimpulan
Kalau ditanya siapa yang pertama menemukan suplemen vitamin, jawabannya tidak sederhana. Casimir Funk adalah ilmuwan yang mencetuskan konsep vitamin dan berhasil mengisolasinya secara laboratoris, menjadikannya figur sentral dalam sejarah penemuan vitamin. Tapi ekosistem penemuan ini melibatkan Eijkman, Hopkins, Szent-Györgyi, dan banyak lagi — masing-masing menyumbang kepingan puzzle yang saling melengkapi.
Sampai 2026, warisan ilmiah mereka hidup dalam setiap botol suplemen vitamin yang tersusun rapi di rak apotek. Sesuatu yang dulu hanya bisa didapat dari makanan tertentu kini bisa diakses dalam satu kapsul kecil — semua bermula dari rasa penasaran seorang ilmuwan muda di London yang bertanya: mengapa dedak beras bisa menyelamatkan nyawa?
FAQ
Siapa penemu suplemen vitamin pertama di dunia?
Casimir Funk dianggap sebagai ilmuwan pertama yang mencetuskan konsep vitamin dan berhasil mengisolasi vitamin B1 (thiamine) pada 1912. Ia juga yang pertama mengusulkan bahwa defisiensi zat ini menyebabkan penyakit tertentu, meletakkan dasar bagi pengembangan suplemen vitamin modern.
Apa perbedaan kontribusi Casimir Funk dan Christiaan Eijkman dalam sejarah vitamin?
Eijkman adalah ilmuwan yang pertama mengamati hubungan antara makanan dan penyakit defisiensi melalui eksperimen ayam di Hindia Belanda. Sementara Funk mengambil observasi tersebut lebih jauh dengan mengisolasi zat aktifnya secara kimiawi dan memberikan nama “vitamine” sebagai konsep ilmiah yang sistematis.
Kapan suplemen vitamin mulai diproduksi dan dijual secara massal?
Produksi massal suplemen vitamin dalam bentuk pil dan kapsul dimulai sekitar pertengahan abad ke-20, setelah para ilmuwan berhasil mensintesis berbagai jenis vitamin secara kimiawi di laboratorium. Sebelumnya, vitamin hanya bisa diperoleh langsung dari sumber makanan alami.


